Imlek telah menjelang, imlek menjadi tema utama yang diperbincangkan di berbagai media. Berbagai sisi yang terkait dengan imlek dibahas tuntas, tak hanya sekedar dikupas sisi budayanya melainkan sampai-sampai masakan khas imlek turut mendominasi media massa. Imlek di Indonesia terkait erat dengan etnis Tionghoa atau keturunan China. Imlek atau tahun baru China merupakan awal pergantian shio. Imlek kali ini menandai dimulainya shio Naga Air, sehingga bayi yang terlahir antara imlek tahun ini sampai imlek tahun besok memiliki shio Naga Air. Shio Naga merupakan salah satu dari 12 shio. Shio dalam penanggalan China adalah Tikus, Harimau, Naga, Kuda, Monyet, Anjing, Kerbau, Ular, Kambing, Ayam, Kelinci, dan Babi. Yang masing-masing dikaitkan dengan 5 unsur yaitu logam, kayu, air, api dan tanah.
Sebagai bagian dari kaum keturunan, saya sedari kecil sudah diberitahu mengenai shio saya. Meski tidak percaya dengan hal-hal yang berbau ramalan, tapi rasanya tergelitik juga untuk mengetahui apa yang dituliskan mengenai shio. Shio saya adalah Naga Api. Dipercayai bahwa Naga merupakan shio terkuat dan paling beruntung. Menurut kepercayaan Tionghoa, karakteristik orang yang mempunyai shio naga adalah idealis, perfeksionis, agresif dan penuh tekad (wikipedia). Dalam blognya, Agung menuliskan beberapa ciri-ciri pemilik shio Naga, di antaranya: suka memberi, cerdas, keras kepala yang tahu apa yang mereka inginkan dan bagaimana meraih keinginan mereka, memiliki karisma yang menarik, memiliki ego yang sangat tinggi, dapat memberi motivasi bagi para pengikutnya, dilahirkan untuk menjadi pemimpin, sejahtera, fleksibel, dan toleran. Sedangkan menurut Nagao, secara umum pribadi Naga memperlihatkan aura magis, kuat, penuh energi, berpikiran maju, optimis, super positif, bukan pendendam, serta mudah memaafkan, cenderung eksentrik, arogan, egois, suka memaksa, banyak tingkah, dan keras kepala, dan tidak mau pasrah terhadap takdir, tidak suka berpura-pura dalam mengekspresikan emosinya, jujur dan blak-blakan.
Secara khusus mengenai Naga Api, sebagaimana dituliskan dalam magicalsoul, dibandingkan dengan shio Naga unsur lain, shio Naga Api paling berbudi, ramah, dan senang bersaing. Shio Naga Api agresif dan banyak menuntut, energinya meluap dan berapi-api, cenderung memaksakan kehendak tetapi terbuka dan blak-blakan, lembut meski cepat naik darah, tak pandai bertenggang rasa dan tak sabar melihat hal yang kurang sempurna, mampu berbuat banyak hal dalam skala besar, suka merasa lebih unggul dan ingin diperlakukan sebagai seorang pemimpin. Sedangkan menurut Agung, unsur Api menunjukkan bakat-bakat kepemimpinan yang tinggi, cepat mengambil keputusan dan percaya pada diri sendiri, motivator yang baik dan mampu mewujudkan ide-idenya, menggemari petualangan dan inovasi akibatnya mereka selalu siap melaksanakan ide-ide baru dan akan berusaha mendominasi orang lain dengan kreatifitas, keaslian serta kemampuannya dalam menanggung resiko.
Bagaimana dengan ramalan mengenai keberuntungan di tahun Naga Air ini? Dari hasil browsing saya menemukan ramalan yang berkaitan dengan shio Naga di tahun Naga Air ini. Shatikah menuliskan bahwa bintang keberuntungan sedang mengitari seluruh kehidupan dan melindungi dari yang jahat. Sebaliknya Suhu Hengkymeramalkan keberuntungan belum memihak pada Naga, akan banyak mengalami konflik batin yang bisa berasal dari lingkungan kerja atau keluarga, semangat juang dan gairah hidup juga turun, ada jebakan dan pengkhianatan yang merugikan karier. Hal yang senada dikemukakan di Ade Irwansyah, diramalkan shio Naga akan banyak mengalami konflik. Suhu Yo memaparkan bahwa tahun ini Naga kurang beruntung, namun banyak peluang usaha yang bisa dilakukan Naga. Hambatan ekonomi akan dialami Naga. Namun nasib kurang beruntung tadi bisa ditutupi karena Naga punya tekad tinggi dan kuat, apalagi memiliki idealis tinggi, sangat agresif, punya ambisi, dan keinginan kuat, sehingga peluang usaha yang dilakukan Naga akan maju.
Percaya atau tidak percaya, itulah ramalan keberuntungan pemilik shio Naga di tahun Naga Air. Satu hal yang bisa anda percaya adalah ramalan dari Cikgu Yati bahwa tahun Naga Air ini adalah tahun keberuntungan bagi semua, usaha keras disertai dengan doa anda akan menuntun anda pada keberuntungan dan keberhasilan. Kembangkan karakter terpuji dan hilangkan sifat-sifat buruk anda, keberuntungan akan berpihak pada diri anda. Jangan pantang menyerah saat gagal, teruslah berusaha sampai keberhasilan anda raih. Selamat menjalani tahun Naga Air.
http://sosbud.kompasiana.com/2012/01/22/keberuntungan-naga-di-tahun-naga-air/
Tampilkan postingan dengan label Fun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fun. Tampilkan semua postingan
Minggu, 22 Januari 2012
Rabu, 18 Januari 2012
Guru Kok Cengengesan
Guru kok cengengesan, mbok ya serius napa? Guru tuh harusnya pasang wajah datar, berwibawa, syukur-syukur sangar. Pasang wajah segalak mungkin, biar dihormati murid-murid. Sama murid kok sukanya cengengesan, menjatuhkan wibawa guru aja. Ngajar kok sambil cengengesan, ya jelas aja kelasnya ramai muridnya ketawa ketiwi, mau jadi pelawak to? Jam pelajaran tuh harusnya tenang, nggak ada murid-murid yang berani mengeluarkan suara, itu baru guru jempolan yang berwibawa di depan murid. Pasti pbm kondusif karena semua murid duduk tenang tanpa suara sedikitpun mendengarkan guru mengajar.
?#^**&2$^P*O#$@E@%!(!)__!??# dll, dst, dsb, dkk.
Kata pepatah, kucing mengeong kafilah berlalu. Biarin aja dibilang guru cengengesan. Biarin aja dikata-katain dengan kalimat yang bikin merah telinga. Aku memang bukan guru feodal yang harus menjaga jarak dengan murid supaya dihormati dan ditakuti. Aku lebih senang menyegarkan suasana kelas dengan tebaran senyuman gurunya yang seperti Monalisa :-). Menyenangkan melihat murid-murid senang.
Nggak perlu tebar pesona, toh otomatis murid-murid terpesona dengan gurunya yang ramah, mau ngobrol, dan suka bercanda dengan murid. Rasa hormat akan datang menyertai dengan sendirinya, wibawa tidak identik dengan pasang sikap sangar. Apa sih enaknya membuat murid merasa tertekan? Apakah ditakuti oleh murid itu sebuah kebanggaan? Sampai-sampai baru mendengar derap langkah sepatu gurunya mendekat, murid langsung terdiam bungkam seribu bahasa dan duduk dalam posisi siap tanpa cela.
Menyebar virus kegembiraan di kelas bagiku lebih bermakna lebih daripada menebar ketakutan. Toh ketakutan murid itu cuma semu, sikap diam yang ditunjukkan terbungkus kepalsuan padahal benaknya penuh dengan rangkaian kata-kata yang siap diteriakkan. Kalau muridnya merasa bahagia selama pelajaran, sama gurunya pasti kan juga senang, minimal jadi suka juga sama pelajarannya. Suka dengan pelajaran diawali dengan rasa suka pada gurunya.
Jadi guru kok cengengesan? Biarin. Aku ingin kehadiranku membawa kegembiraan. Cengengesan is the best lah pokoknya.
http://edukasi.kompasiana.com/2012/01/18/guru-kok-cengengesan/
?#^**&2$^P*O#$@E@%!(!)__!??# dll, dst, dsb, dkk.
Kata pepatah, kucing mengeong kafilah berlalu. Biarin aja dibilang guru cengengesan. Biarin aja dikata-katain dengan kalimat yang bikin merah telinga. Aku memang bukan guru feodal yang harus menjaga jarak dengan murid supaya dihormati dan ditakuti. Aku lebih senang menyegarkan suasana kelas dengan tebaran senyuman gurunya yang seperti Monalisa :-). Menyenangkan melihat murid-murid senang.
Nggak perlu tebar pesona, toh otomatis murid-murid terpesona dengan gurunya yang ramah, mau ngobrol, dan suka bercanda dengan murid. Rasa hormat akan datang menyertai dengan sendirinya, wibawa tidak identik dengan pasang sikap sangar. Apa sih enaknya membuat murid merasa tertekan? Apakah ditakuti oleh murid itu sebuah kebanggaan? Sampai-sampai baru mendengar derap langkah sepatu gurunya mendekat, murid langsung terdiam bungkam seribu bahasa dan duduk dalam posisi siap tanpa cela.
Menyebar virus kegembiraan di kelas bagiku lebih bermakna lebih daripada menebar ketakutan. Toh ketakutan murid itu cuma semu, sikap diam yang ditunjukkan terbungkus kepalsuan padahal benaknya penuh dengan rangkaian kata-kata yang siap diteriakkan. Kalau muridnya merasa bahagia selama pelajaran, sama gurunya pasti kan juga senang, minimal jadi suka juga sama pelajarannya. Suka dengan pelajaran diawali dengan rasa suka pada gurunya.
Jadi guru kok cengengesan? Biarin. Aku ingin kehadiranku membawa kegembiraan. Cengengesan is the best lah pokoknya.
http://edukasi.kompasiana.com/2012/01/18/guru-kok-cengengesan/
Langganan:
Postingan (Atom)